Ayat Al Qur’an tentang Ulul Albab

MAKALAH
ULUL ALBAB
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Study Al Qur’an
Dosen Pengampu
Nashihuddin, M.SI

Nama Anggota:
Hidayatul Lutfiah
Fatimatuz Zahro
Ayu Fidya Ningtyas
Siti Khotimah

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
MALANG
2010-2011

BAB I
AYAT AL-QUR’AN TENTANG ULUL ALBAB (KECERDASAN)/PEMIKIRAN

1. Surat Al-Baqarah 179
        
“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa”.

2. Al- Imron 191
                    • 
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
3. Yusuf 111
                        
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.

4. Ar Ra’d 19
                 
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”.

5. Al Kahfi 93
•             
“Hingga apabila dia Telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan”.
Maksudnya: mereka mereka tidak bisa memahami bahasa orang lain, Karena bahasa mereka amat jauh bedanya dari bahasa yang lain, dan merekapun tidak dapat menerangkan maksud mereka dengan jelas karena kekurangan kecerdasan mereka.
BAB II
PENDAPAT ULAMA’ (TAFSIR)

1. Al Baqoroh 179
        
“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa”.
Arti ayat yang berbunyi “Dan dalam qishash itu terdapat kehidupan” adalah terjaminnya kelangsungan hidup manusia. Sedangkan arti dari kalimat “hai orang–orang yang berakal”, adalah jika seseorang yang membunuh itu mengetahui bahwa iya akan di bunuh pula, maka ia akan berfikir panjang dan membalik surut, sehingga dengan demikian berarti ia memelihara nyawanya dan nyawa orang yang akan di bunuh nya tadi. Disyari’atkan oleh Allah swt. Arti dari “supaya kamu bertakwa” adalah agar dirimu dari membunuh, agar terhindar dari pembalasan-Nya.
“Dan dalam qishash itu ada jaminan kelangsungan hidup bagimu”. Dalam kalimat ini, Asy Syaukani dalam tafsirnya mengatakan bahwa “Allah menetapkan qisosh sebagai jaminan kelangsungan hidup, balasan dan pelajaran, bagi orang dhalim yang melampaui batas mengingat nya, maka dia akan menahan diri dari membunuh orang lain”. Yakni dalam hukum yang di syariatkan Allah kepada kalian ini terdapat jaminan hidup kepada kalian. Karena bila seorang mengetahui bahwa bila ia membunuh orang lain, maka ia pun akan di bunuh sebagai qishash, dengan ini dia akan menahan diri dari membunuh, dan tidak akan sembrono untuk melakukannya dan terjerumus kedalamnya, sehingga kedudukan ini sama dengan memberikan kehidupan kepada semua jiwa manusia, ini merupakan ungkapan lidah yang mengandung makna sangat mendalam. Karena Allah menyatakan qishash yang sebenarnya kematian, menahan diri untuk saling membunuh, demi kelangsungan jiwa dan kehidupan mereka sendiri.
Dan kalimat “supaya kamu bertakwa” ini, ia berkata “agar kamu menahan diri dari membunuhnya karena takut dibalas bunuh sebab bunuhannya,”. Maksud dari “hai orang – orang yang berakal” adalah orang – orang yang berakal akan ingat pada qishash sehingga menjaganya karena takut di terapkan qishash akibat bunuhan. Dan “supaya kamu bertakwa” agar manusia memelihara darah karna takut diqishash.
Menurut Dr. ‘Aidh Al Qarni dalam Tafsir Al Muyassar pada Surat Al Baqoroh ayat 179 yang berbunyi “Dan dalam qishosh itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang–orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” adalah Wahai orang–orang beriman, penetapan hokum qishos (hukum mati) ini adalah untuk melindungi hak hak untuk hidup setiap jiwa yang masih hidup. Sebab, bila seseorang mengetahui bahwa dirinya akan di bunuh jika membunuh, niscaya dia akan selalu berusaha menahan diri untuk tidak menumpahkan darah dan membunuh orang yang masih hidup. Dengan begitu, niscaya akan terciptalah rasa aman di tengah masyarakat, kehidupan sehari hari akan berjalan dengan tentram, keselamatan nyawa akan selalu terpelihara, setiap tetes darah akan terlindungi, keamanan terus berlangsung, dan masyrakatpun akan damai sentosa.
Sesungguhnya orang yang bisa mahami rahasia syari’at, kebijaksanaan Allah, dan kebaikan dari agama adalah orang yang sehat akal nya, bercahaya mata hatinya, lagi suci sanubarinya. Di syariatkannya hukum qishash adalah agar seorang hamba merasa takut terhadap Rabb-Nya, sehingga dia menahan diri dari sifat aniaya, permusuhan, berbuatan zhalim terhadap orang lain, dan mencegah diri dari menghalalkan apa yang telah di haramkan Allah.

2. Al-Imran 191
Pada ayat ini, Allah menyebutkan bahwa diantara perkataan yang diucapkan oleh orang-orang berakal itu adalah perkataan mereka yang mensucikan Tuhan mereka, yaitu dengan mengatakan bahwa tidak mungkin Allah menciptakan langit dan bumi ini dengan sia-sia atau tanpa ada hikmah satu pun. Maha Suci Allah dari hal seperti itu.
Di tempat lain, Allah telah menegaskan bahwa orang yang memiliki prasangka seperti itu (bahwa Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan sia-sia) adalah orang-orang kafir. Atas prasangkanya itu, Allah pun mengancam mereka dengan siksa neraka. Allah berfirman :
                    • 
“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”
Kekhususan ulul-albab ditandai dengan perhatian mereka yang besar terhadap fenomena alam syahadat. dengan pemahaman atas proses-proses alam syahadat, mereka mencoba memahami pula makna ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka mencari hubungan antara kedua pemahaman, antara ayat qawliyyah dan ayat kawniyyah. di antara kedua jenis ayat tersebut, tidak mungkin terdapat pertentangan karena keduanya sama-sama berasal dari Allah.
Dari pengalaman mendapatkan dan mengembangkan ilmu penegtahuan empiris, para ilmuwan menyadari sepenuhnya ketrbatasan kemampuan mereka untuk memahami semua fenomena alam syahadat. Dengan bantuan teleskop yang sangat canggih, mereka dapat menyaksikan bagian alam jagat sampai jarak ribuan tahun cahaya (satu tahun cahaya= 365 x 24 x 60 x 60 x 300.000 km). Walaupun begitu, batas jagat tidak ditemukan. Betapa besarnya jagat raya dan sungguh betapa kecilnya manusia.
Ke arah alam kecil (mikrokosmos), kita telah mengenal dunia virus dan dunia atom. Sampai sekarang, terdapat perbedaan pendapat para ahli apakah virus itu satu makhluk hidup paling kecil atau benda mati beriupa satu molekul. Raksasa yang terdiri atas muliaran atom? Atom yang semula dianggap bagian benda paling kecil, ternyata masih dapat dipecah lagi menjadi bagian-bagian lebuh kecil. Bahkan, ada bagian-bagian yang mengaburkan pemahaman kita sertta membedakan antara materi dan energi.
Hal yang paling penting, dari semua pengetahuan kita mengenai alam syahadat berdasarkan pengamatan dan eksperimen, tempat-tempat yang dianamakan surga dan neraka tidak dapat ditemukan. Informasi yang mengatakan ada tujuh lapis langit merupakan informasi yang tidak benar.
3. Yusuf 111
                        
“sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.
Dalam kisah Yusuf terdapat pelajaran bagi Orang-orang yang Berakal. Qashasha al-akbar berarti ‘menyampaikan berita dalam bentuk yang sebenarnya’. Kata ini diambil dari perkataan Qashasha Al-Atsara wa Iqtashshahu yang berarti ‘menuturkan cerita secara lengkap dan benar-benar mengetahuinya’.
Dalam kisah yusuf as. beserta kedua orangtua dan saudara-saudaranya, terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal benar dan berpikiran tajam, karena merekalah orang-orang yang mengambil pelajaran dari akibat perkara yang ditunjukkan oleh pendahulunya. Sedang orang-orang yang terpedaya dan lengah, tidak mempergunakan akalnya untuk mencari dalil-dalil, sehingga nasihat-nasihat tidak berguna bagi mereka.
Letak pengambilan dari kisah ini adalah: Allah telah kuasa untuk menyelamatkan Yusuf setelah dilemparkan ke dalam sumur, mengangkat kedudukannya setelah dipenjarakan, menjadikannya berkuasa di Mesir setelah dijual dengan harga yang sangat murah, mengokohkan kedudukannya di muka bumi setelah ditawan, menenangkannya atas saudara-saudaranya yang berbuat jahat terhadapnya, menyatukan kekuatannya dengan mengumpulkan kedua orangtua dan saudara-saudaranya setelah perpisahan sekian lama, dan mendatangkan mereka mereka dari belahan bumi yang sangat jauh. Sesungguhnya, Allah yang telah kuasa untuk melakukan semua itu terhadap Yusuf, kuasa pula untuk menjayakan Muhammad saw., meninggikan kalimat-Nya, dan menampakkan agama-Nya. Maka, Dia mengeluarkan dari kalian, kemudian memenangkannya atas kalian, mengokohkan kedudukannya di dalam negeri, dan menguatkannyadengan balatentara, para pembesar, pengikut serta penolong, meski dia melalui berbagai rintangan dan peristiwa berat.
Kisah ini bukan cerita yang dibuat-buat, karena dia termasuk pembawa cerita dan berita yang paling lemah. Dia termasuk orang-orang yang tidak pernah menelaah kitab dan tidak pernah bergaul dengan orang-orang alim. Hal ini merupakan dalil yang nyata dan keterangan yang kuat, bahwa Al-qur’an datang dari wahyu.oleh sebab itu Allah berfirman, “Akan tetapi Al-qur’an ini membenarkan apa yang ada pada sisinya”, yakni membenarkan kitab-kitab samawi yang diturunkan Allah sebelumnya kepada para Nabi, seperti Taurot, Injil, dan Zabur. Dengan kata lain, Al-Qur’an membenarkan kebenaran yang ada pada mereka di dalam kitab-kitab itu, tidak setiap apa yang ada pada mereka. Ia tidak membenarkan apa yang ada pada mereka khurafat yang rusak dan angan-angan yang kosong yang batil, karena ia datang untuk menghapus dan melenyapkan, tidak untuk menetapkan dan membenarkannya.
Menjelaskan segala hal berupa perintah dan larangan Allah serta janji dan ancaman-Nya. Kemudian, menerangkan perkara yang wajib bagi Allah Ta’ala, yaitu sifat-sifat kesempurnaandan kesucian-Nya dari sifat-sifat kekurangan. Di dalamnya juga terdapat kisah para nabi bersama kaum mereka, yang di dalamnya terdapat pelajaran, peringatan, dan segala hal yang dibutuhkan oleh hamba.
Pendek kata, di dalam terdapat penjelasan tentang segala hal yang dibutuhkan di dalam perkara agama. Penjelasan ini disajikan secara panjang lebar atau ringkas, sesuai dengan tempatnya. Maka kebenaran dalam akidah dijabarkan dengan menggunakan berbagai hujjah dan dalil, kemudian kebenaran dalamhal keutamaan, adab, pokok syariat dan dasar hukum, dijelaskan dengan keterangan yang dapat memperbaiki urusan manusia dan kemasyarakatan.
Ia adalah petunjuk bagi orang yang merenungkannya, memperhatikan, dan membacanya dengan sebaik-baiknya. Ia adalah pembimbing menuju tercapainya kebeneran, menuju jalan lurus, dan terlaksananya kebaikan di dunia maupun akhirat. Dan ia adalah rahmat umum bagi kaum mu’minin yang melaksanakan syariat Allah mengenai urusan agama maupun dunia mereka.
Orang-orang non-mu’min yang tunduk kepada syariat ini berada di bawah naungannya dalam keadaan aman, baik terhadap diri, harta, maupun kehormatan mereka. Mereka merdeka melalui menjalani akidah dan ibadah, sama dengan kaum mu’minin dalam hak dan mu’amalah, serta hidup dalam milliu yang bersih dari berbagai kekejian dan kemungkaran yang merusak akhlak dan keutamaan.

4. Ar Ra’d 19
                 
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”.
Firman Allah SWT. pada ayat ini, “Adakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?”. Ini adalah sebuah contoh yang diberikan Allah Ta’ala terhadap orang yang beriman dan kafir.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas RA sebagaimana yang disebutkan dalam Al Bahr Al Muhith (5/384), bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abu Jahal. Dan, yang dimaksud dengan buta adalah buta hati dan bodoh terhadap urusan agama adalah hati yang sangat buta. Dan seperti firman Allah, “Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.”
Sedangkan dalam Tafsir Ibnu Katsir diterangkan bahwa Allah SWT. berfirman, tidak sama orang yang mengetahui bahwa “Yang diturunkan kepadamu,” Wahai Muhammad “Dari Rabb-mu,” itu adalah benar, tidak diragukan, tidak disangsikan, tidak ada kesamaran, dan tidak ada yang diperselisihkan isinya, bahkan semuanya adalah benar, saling membenarkan sebagiannya terhadap sebagian yang lain. Tidak ada yang bertentangan antara satu dengan yang lain, karena semua berita yang ada di dalamnya adalah benar dan semua perintah dan larangannya adil, sebagaimana ditegaskan Allah SWY. dalam firman-Nya, “Dan telah sempurnalah kalimat Rabb-mu (Al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil.” (QS. Al An’am: 115). Maksudnya, benar dalam pemberitaannya, adil dalam tuntutannya (perintah dan larangannya). Maka orang yang telah mengetahui kebenaran dari apa yang telah kamu sampaikan, Wahai Muhammad, tidak sama dengan orang yang buta yang tidak tertuntun kepada kebaikan dan tidak memahaminya. Jika ia memahaminya juga, ia tidak mau tunduk kepadanya, tidak mau membenarkannya dan tidak mau mengikutinya.
Dalam firman Allah SWT. yang berbunyi “Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.”. Maksudnya, yang akan mengambil nasehat, mengambil suri tauladan dan memikirkannya hanyalah orang-orang yang mempunyai akal sehatdan benar saja.
Dalam Tafsir Al Aisar, makna dari Surat Ar Ra’d ayat ke-19 adalah bahwa ayat ini mengandung perbandingan dan keistimewaan antara dua pribadi, yaitu pribadi orang beriman yang sholih, seperti Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, dan pribadi yang kafir dan rusak seperti Abu Jahal Al Makhzumi. Dijelaskan untuk keduanya balasan di akhirat kelak, disertakan dengan menyebutkan sifay-sifat yang ada pada keduanya. Allah SWT. berfirman, “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar…” lalu ia beriman setelah mengetahuinya dan istiqomah pada jalannya yaitu dalam keyakinan, ibadah, pergaulan dan segala macam bentuk tingkah lakunya. (Ini adalah bentuk pribadi yang pertama). “Sama dengan orang yang buta…” (yang dimaksud buta disini adalah buta hati bukan buta penglihatan, karena penyebab butanya mata hati adalah kebodohan) dia tidak mengetahui kebenaran dan tidak akan mengimaninya serta tidak mengamalkan syariat yang diturunkan Allah SWT. kepada Rasul-Nya (ini pribadi yang kedua).
Jawabannya jelas bahwa keduanya tidaklah sama atau setara dalam timbangan keadilan. Firman Allah SWT., “Hanyalah orang-orang yang berakal saja ynag dapat mengambil pelajaran….”. Yang dapat mengambil pelajaran dari perbandingan ini hanyalah orang-orang yang berakal, yang dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan, yang bermanfaat dan yang mudharat, baik dan buruk.
Menurut Dr. ‘Aidh Al Qarni dalam Tafsirnya Al Muyassar, tafsir Surat Ar Ra’d ayat 19, “Adakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” ini, bahwa adkah orang yang mengetahui, meyakini, dan membenarkan apa yang diturunkan Allah SWT. kepadamu, Wahai Nabi, berupa wahyu, sama seperti orang buta yang mendustakan risalahmu dan durhaka rethadap perintahmu? Yang bisa mengambil manfaat dari nasihat hanyalah orang-orang yang berakal lurus dan memiliki fitrah yang murni. Mereka adalah manusia yang paling cepat memenuhi panggilan dan mengakui kebenaran.
5. Al Kahfi 93
•             
“Hingga apabila Dia telah sampai di antara dua buah gunung, Dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan”.
Maksudnya mereka tidak bisa memahami bahasa orang lain, karena bahasa mereka amat jauh bedanya dari bahasa yang lain, dan merekapun tidak dapat menerangkan maksud mereka dengan jelas karena kekurangan kecerdasan mereka.
Dalam ayat ini, maksud dari dua buah gunung adalah gunung dari arah Armenia dan Azerbaijan. Atho’ Al Khurasani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas “di antara dua gunung” Armenia dan Azerbaijan. Diceritakan pula dari Ibnu ‘Abbas dari oleh Ath Thabari dalam Jami’ Al Bayan (16/13) dan An Nuhas dalam Ma’ani Al Qur’an (4/293). bahwa “dia mendapati di hadapan kedua bukit itu” yakni di balik keduanya, “suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.”. Hamzah dan Al Kisa’I membaca yafqohuuna dengan dhammah pada ya’dan kasroh pada qof, dari kata afqoha yang artinya menerangakan. Yakni mereka tidak menerangkan pembicaraan mereka kepada orang lain. Sementara yang lainnya membacanya dengan fathah pada ya’ dan qof. Kedua qira’ah ini shahih, jadi mereka itu tidak mengerti pembicaraan orang lain dan orang lain pun tidak mengerti pembicaraan mereka.
Sedang dalam Tafsir Al Muyassar, diterangkan bahwa hingga manakala Dzulkarnain sampai di antara dua buah gunung ynag menghalangi apa yang terdapat di balik kedua gunung tersebut, dia mendapatkan di kaki kedua gunung itu sekelompok orang ynag memiliki bahasanya sendiri yang hampir tidak mengerti pembicaraan orang lain.

BAB III
INTEGRASI SAINS DAN AL-QUR’AN

Sejak awal kehidupan manusia di planet ini, manusia selalu berusaha untuk memahami alam, rencana penciptaan dan tujuan dari hidup. Dalam mencari kebenaran, dengan memutar kembali berabad-abad dan peradaban-peradaban yang berbeda, agama yang diorganisir sudah membentuk hidup manusia dengan maksud yag sangat luas dan besar, untuk sebuah kebenaran sejarah. Sementara beberapa agama didasarkan pada buku, yang diakui oleh para pengikut mereka untuk diilhami dengan sempurna, yang lain sudah mempercayakan semata-mata karena pengalaman manusia.
Menurut Fisikawan terkenal pemenang hadiah Nobel Albert Einstein, “Ilmu Pengetahuan tanpa agama adalah timpang. Agama tanpa Ilmu Pengetahuan adalah buta”. Informasi ini sangat tepat tentang untuk apa mereka menganugerahkan Nobel kepada beberapa orang yang tidak beriman. Al Qur’an mengungkap asal muasal alam semesta tentang bagaimana dimulai dari satu potongan dan manusia melanjutkan untuk memverifikasi wahyu ini, bahkan hingga sekarang. Sebagai tambahan, fakta bahwa semua kehidupan berasal dari air bukan merupakan suatu hal yang gampang untung meyakinkan kepada orang-orang dari 14 abad yang lalu. Sungguh, Jika 1400 tahun yang lalu kita telah berdiri di tengah padang pasir dan memberitahu seseorang, “semua ini kita lihat dan menunjuk diri sendiri rata-rata terdiri dari air” tidak seorangpun akan percaya. Bukti oni tidak didapatkan sampai menemukan mikroskop. Mereka harus menunggu sampai menemukan sitoplasma, unsur dasar sel yang terdiri dari 80% air. Meskipun demikian, bukti itu muncul dan sekali lagi Al Qur’an berdiri dari ujian zaman.
Al Qur’an itu bukan merupakan suatu buku dari Ilmu Pengetahuan, tetapi suatu buku dari ‘tanda-tanda’, yaitu ayat-ayat. Ada lebih dari 6000 tanda dalam Al Qur’an dan lebih dari 1000 yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Kita semua mengetahui bahwa berkali-kali ilmu Pengetahuan berputar arah. Jadi kita harus mempertimbangkan fakta-fakta ilmiah yang nyata dan bukan semata-mata hipotesa dan teori-teori yang didasarkan pada anggapan-anggapan yang tidak didukung oleh bukti.
Belakangan ini telah mincul istilah I’jaz al-‘ilmi (mukjizat keilmuan) dalam AL-Qur’an, bahkan telah dibentuk lembaga I’jaz Al-‘Ilmi fi Al-Qur’an wa As-Sunnah. Sebagian dari mereka malah berusaha membuktikan sains modern dengan ayat-ayat yang belum dapat dibuktikan oleh teori-teori dan penemuan-penemuan ilmiah.
Di sini pula diungkapkan bahwa ilmu mampu mencapai hal-hal yang betul-betul pelik dan sangat luar biasa. Adanya I’jaz Al-Qur’an berarti kekalnya mukjizat, sebab kekalnya mukjizat berarti pula kekalnya Islam. Bila kita melihat secara seksama pada sebagian isyarat ilmiah yang ada dalam Al-Qur’an, lalu dibandingkan dengan ilmu-ilmu modern, masalah I’jaz al-‘ilmi di dalam Al-Qur’an adalah pendapat yang riskan.
Pembicaraan mengenai tahapan-tahapan penciptaan, proses janin, dan sebagainya yang dibicarakan Al-Qur’an kemudian dibuktikan oleh ilmu kedokteran setelah masa waktu yang lama, tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an yang menggambarkan hal-hal yang bersifat ilmiah tersebut bersumber dari Allah SWT. Tetapi, saya kira kurang tepat bila masalah itu dikaitkan dengan hal yang disebut I’jaz, tetapi lebih tepat bila disebut sebagai bukti-bukti kenabian. Kami juga tidak meragukan bahwa Al-Qur’an juga memerintahkan manusia kepada hakikat ilmiah, yaitu dengan mendorongnya untuk merenung, melihat, memperhatikan dan mempelajari berbagai bentuk hokum alam agar diungkapkan dan ditemukan. Bila hal serupa ini disebut sebagai ‘ijaz ‘ilmi (mukjizat keilmuan) dalam artian kekalnya I’jaz, maka istilah tersebut juiga kurang tepat. Meski Al-Qur’an sendiri merupakan mukjizat, dan karena objek Al-Qur’an itu manusia untuk memakmurkan jagat raya ini dengan ilmu.
Apa yang ditemukan manusia akhir–akhir ini membuat orang terheran–heran. Bila kita berada di dalam sebuah pesawat misalnya, kita merasa sseakan – akan melewati gunung – gunung dan kita melihat awan yang ada di hadapan kita seperti gunung yang tampak dari kejauhan, Al- qur’an telah mengungkap hal ini jauh sebelum orang dapat naik sepuluh kilometer ke udara dan melihat awan yang ada di hadapan kita seperti gunung yang tampak dari kejauhan. Al – Qur’an telah mengungkap hal ini jauh sebelum orang dapat naik sepuluh kilometer ke udara dan melihat yang ada di bawahnya. Ini salah satu bentuk i’jaz. Sebelum ada sinar X yang mampu memberikan gambaran proses pertumbuhan janin seperti yang di gambarkan Al – Qur’an, buku – buku lain pada masa lalu pun tak mampu mengungkap hal semacam itu. Baru setelah itu, ada ilmu yang menguatkan bagaimana proses pertumbuhan janin. Tidak di ragukan lagi ini membuktikan i’jaz Al – Qur’an. Dan i’jaz ketidak mampuan manusia untuk melakukan hal serupa sebagai mana yang dilakukan Al- Qur’an.
Seandainya yang disebut i’jaz al ‘ilmi berarti kekalnya ketidak mampuan manusia untuk mencapai sesuatu yang mampu dicapai Al – Qur’an, termasuk mencapai esensi – esensi, ketentuan – ketentuan ilmiah, dan sebagai nya, maka I’jaz untuk dunian saat ini tidak berarti terungkap nya sejumlah hukum ilmu pengetahuan oleh manusia sebagai mana telah di capai dan di buktikan Al – Qur’an. Karena ilmu sudah mampu mengungkap hal-hal melebihi isyarat Al – Qur’an dan apa yang di isyaratkan Al- Qur’an merupakan i’jaz pada kurun tertentu, tentu i’jaz tidak dapat kita katakan kecuali pada waktu kurun tertentu.
Sekarang, Ilmu melebihi hal itu semua dan ini mendorong kita untuk mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut bukanlah i’jaz buta dunia sekarang ini,ia i,jaz untuk dunia kemarin. Al – Qur’an adalah mukzizat dengan sifat kekekalan nya, lalu memgapa hal itu tidak kita katakan sebagai bukti kenabian? Mungkin ada baik nya membedakan antara bukti-bukti kenabian dan i’jaz. I’jaz adalah hal-hal yang tidak mampu diciptakan manusia. Hal ini merupakan masalah supernatural, dan menyebabkan manusia tidak mampu menciptakan nya sepanjang masa. Namun bila kenyataan nya sekarang manusia mampu mengetahui proses pertumbuhan janin serta mencapai hal-hal yang lebih jauh lagi dari itu, tidak berarti i’jaz menjadi gugur. Hanya saja Al – Qur’an memang telah menggambarkan hal itu pada masa lalu sebelum timbulnya ilmu dan belum adanya media – media yang lengkap guna memberikan informasi tentang hal tersebut.
Kekalnya mukjizat yaitu adanya kontinuasi ketidak mampuan manusia untuk membuat hal serupa. Lalu, seandainya pada suatu saat ada yang mampu menciptakannya seperti Al – Qur’an atau seperti ayat – ayat Al – Q ur’an pasti akan menggugurkan makna kekekalan mukjizat. Kekal berarti ada terus-menerus, terus-menerus berarti, misalnya dengan menggunakan pesawat dari palestina ke Mekkah hanya memerlukan waktunseperempat jam, apakah isra’ bukan berarti mukjizat? Tentu saja tidak demikian, Artinya Isra’ adalah mukjizat material yang terjadi pada waktu tertentu. Tetapi isra’ tidak di anggap sebagai mukjizat yang kekal, mukjizat yang kekal hanyalah Al-Qur’an. Makna i’jaz al- ilmi Al-Qur’an adalah pengungkapan suatu rahasia yang pada waktu itu manusia tidak mampu mengetahuinya sama sekali, dan baru beberapa abad kemudian di ketahuilah bahwa yang di ungkapkan Al-Qur’an itu adalah benar, itu membuktikan kebenaran isyarat Al-Qur’an.

BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan
Fungsi dari pengindraan adalah sama antara manusia dan mahkluk hidup lainya. Akan tetapi manusia memiliki kelebihan dibandingkan hewan yaitu akal yang diberikan oleh Allah. Kemampuan berpikir memungkinkannya untuk meneliti dan mengkaji berbagai hal dan kejadian, mengambil intisari masalah umum dari masalah tertentu dan mengambil kesimpulan dari masalah-masalah yang telah dipaparkan lebih dahulu. Kemampuan berpikir manusia itulah yang membuatnya dibebani kewajiban beribadah dan mengemban tanggung jawab untuk memilih dan berkehendak.
Allah mendorong manusia untuk memikirkan alam semesta, mengamati berbagai gejala alam dan menghayati ciptaan Allah yang begitu indah dan tersistem dengan baik. Allah jaga mendorong manusia untuk mencari ilmu dan mengetahui ketentuan-ketentuan dan aturan hukum Allah disegaa bidang ilmu pengetahuan. Kita bisa menjumpai seruan mengamati,berpikir, mengkaji dan mencari ilmu di sebagian besar tempat dalam Alqur’an Al-karim.

Categories: Materi-MateriQ | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: