Murji’ah….. Teologi Islam

  1. Pengertian Aliran Murji’ah

Nama Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a yang bemakana penundaan, penangguhan dan pengharapan. Kata arja’a mengandung arti pengharapan yang bermaksud memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu, arja’a berarti pula meletakkan di belakang atau mengemudikan, yang maksudnya adalah orang yang mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu Murji’ah artinya adalah orang yang menunda penjelasan kedudukan orang yang bersengketa, yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak.[1] Kata arja’a juga mengandung arti membuat sesuatu mengambil tempat di belakang dalam makna memandang kurang penting. Pendapat bahwa perbuatan kurang penting akhirnya membawa beberapa golongan kaum Murji’ah akan terlihat sebagai paham-paham yang ekstrim.[2]

Aliran Murji’ah adalah aliran Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan Khawarij  atau golongan yang bersikap netral tidak mau turut dalam praktek kafir-mengkafirkan yang terjadi antar golongan.  Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan Khawarij.[3] Pengertian Murji’ah sendiri ialah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT kelak.  Jadi, mereka tak mengkafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah SWT, sehingga seorang Muslim, sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya harapan untuk bertobat. Demikian pula orang Mukmin yang melakukan dosa besar masih di anggap mukmin di hadapan mereka. Orang mukmin yang melakukan dosar besar itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun melakukan dosa besar masih tetap mengucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar utama dari iman. Oleh karena itu, orang tersebut masih mukmin, bukan kafir.[4]

  1. 2.      Asal-Usul Kemunculan Aliran Murji’ah

Beberapa teori berkembang mengenai asal-usul kemunculan aliran Murji’ah ini. Menurut Abdul Rozaq (2000), teori yang pertama mengatakan bahwa gagasan irja atau arja’a dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat Islam ketika terjadi pertikaian politik dan juga bertujuan untuk menghindari sektarianisme. Murji’ah, baik sebagai kelompok politik maupun teologis, diperkirakan lahir bersamaan dengan kemunculan Syi’ah dan Khawarij. Kelompok ini merupakan musuh berat Khawarij.

Masih menurut Abdul Rozaq (2000), teori lain mengatakan bahwa gagasan irja yang merupakan basis doktrin Murji’ah muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh cucu Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Al Hasan bin Muhammad Al Hanafiyyah sekitar tahun 695 M. Watt, penggagas teori ini menceritakan bahwa 20 tahun setelah kematian Muawiyah, pada tahun 680 M. dunia Islam dikoyak oleh pertikaian sipil. Al Mukhtar membawa paham Syi’ah ke Kufah dari tahun 685 M – 687 M; Ibnu Zubair mengklaim kekhalifahan di Makkah hingga yang berada di bawah kekuasaan Islam. Sebagai respon dari keadaan ini, muncul gagasan irja atau penangguhan (postponenment). Gagasan ini pertama kali digunakan sekitar tahun 695 M oleh cucu Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Al Hasan bin Muhammad Al Hanafiyyah, dalam sebuah surat pendeknya. Dala surat itu, Al Hasan menunjukkan sikap politiknya dengan mengatakan, “Kita mengakui Sayyidina Abu Bakar As Shiddiq dan sayyidina Umar bin Khattab, tetapi menangguhkan keputusan atas persoalan yang terjadi pada konflik sipil yang pertama yang melibatkan Sayyidina Utsman Bin ‘Affan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib dam sahabat Zubair (seorang tokoh pembelot ke Makkah).” Dengan sikap politik ini Al Hasan mencoba menanggulangi perpecahan Umat Islam. Ia kemudian mengelak berdampingan dengan kelompok Syi’ah Revolusioner yang terlampau mengagungkan Sayyidina Ali dan para pengikutnya, serta menjauhkan diri dari Khawarij yang menolak mengakui kekhalifahan Muawiyah dengan alasan bahwa ia adalah keturunan Si pendosa Utsman.

Teori lain mengatakan tentang dilakukannya tahkim (arbitrase) atas usulan ‘Amr bin ‘ash, seorang kaki tangan Muawiyah ketika terjadi perseteruan antara Sayyidina Ali dan Muawiyah. Telah diketahui bahwa akibat perseteruan ini terjadi dua kubu, yakni yang pro dan kontra. Dari kubu yang kontra (Khawarij) memandang bahwa tahkim bertentangan dengan Al-Qur’an, dalam pengertian tidak bertahkim berdasarkan hukum Allah. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa melakukan tahkim ini dosa besar, dan pelakunya dapat dihukumi kafir. Pendapat ini ditentang oleh sekelompok sahabat yang kemudian disebut Murji’ah, yang mengatakan bahwa pembuat dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah, apakah Dia akan mengampuninya atau tidak.[5]

Asal usul kemunculan kelompok Murji’ah dapat dibagi menjadi 2 sebab, yaitu:

  1. Kaum Murji’ah pada mulanya di timbulkan oleh persoalan politik, tegasnya persoalan Khalifah yang membawa perpecahan di kalangan umat Islam setelah Usman Ibn Affan mati terbunuh. Kaum Khawarij pada mulanya adalah penyokong Ali, tetapi kemudian berbalik menjadi musuhnya. Karena adanya perlawanan ini, penyokong-penyokong yang tetap setia padanya bertambah keras dan kuat membelanya dan akhirnya mereka merupakan satu golongan lain dalam Islam yang di kenal dengan nama Syi’ah. Kefanatikan golongan ini terhadap Ali bertambah keras, setelah ia sendiri mati terbunuh pula. Meskipun kaum Khawarij dan Syi’ah merupakan dua golongan yang bermusuhan sama-sama menentang kekuasaan Bani Umayyah, tetapi dengan motif yang berlainan. Khawarij menentang dinasti ini karena memandang mereka menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam, sedangkan Syi’ah menentang, karena memandang mereka merampas kekuasaan dari Ali dan keturunannya[6].
  2. Permasalahan Ketuhanan

Dalam suasana pertentangan antara golongan Khawarij dan Syi’ah, timbul golongan baru yang bersikap netral tidak mau turut dalam urusan kafir-mengafirkan yang terjadi antara golongan yang bertentangan. Bagi mereka sahabat-sahabat yang bertentangan itu merupakan orang-orang yang dapat di percaya dan tidak keluar dari jalan yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengeluarkan pendapat tentang siapa yang sebenarnya salah, dan memandang lebih baik menunda (arja’a) penyelesaian persoalan ini ke hari perhitungan dihadapan Tuhan[7].


[1] Nasution. Islam Rasional. 1993. Jakarta: UI Press

[2] Nasution, Harun. Teologi Islam, Aliran-aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan. 1986. Jakarta: UI Press

[3] Nasution, Harun. Teologi Islam, Aliran-aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan. 1986. Jakarta: UI Press

[4] Ibid., 25

[5] Rozaq, Abdul. Ilmu Kalam. 2000. Bandung: Pustaka Setia

[6] Abdul Rozak,  dan Rosihan Anwar, Ilmu Kalam., CV Pustaka Setia, Bandung, 2007, Hal. 57

[7] Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan, Jakarta, UI Press, 1986, halaman 24

Categories: Materi-MateriQ | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: